Test Footer

Pendidik Tegas Tidak Harus Membentak

Pendidik Tegas Tidak Harus Membentak, 10 dampak membentak anak, 9 solusi agar tidak membentak anak.


Assalamualaikum sahabat alone, beberapa hari yang lalu saya telah memposting artikel terkait 4 Ciri Dasar Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa, Dan pada hari ini tema nya masih seputar pendidikan namun topik bahasannya berbeda dari yang lalu, hari ini topiknya tentang peran seorang pengajar/ pendidik didalam mendidik peserta didiknya. Sebelum berdiskusi mari kita lihat sekolah yang ada di lingkungan sekitar kita, coba kita amati bagaimana seorang guru dalam mendidik siswa-siswi nya apakah masih mengikuti sistem pengajaran zaman dulu yaitu mendidik dengan keras dan membentak murid, atau mendidik muridnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dan jika sobat menjadi seorang pendidik maka manakah sistem pengajaran yang akan sobat gunakan?

Sebagai pengajar atau pendidik atau bahkan orang tua pasti pernah memarahi peserta didiknya/ anak didiknya ketika peserta didik tersebut melakukan kesalahan yang bisa membuat pengajarnya jengkel atau emosi. Memarahi peserta didik dengan membentaknya termasuk dalam bentuk kekerasan verbal yang bisa mempengaruhi psikis dan memiliki dampak negatif. Menjadi orang tua atau pendidik tidak harus dengan membentak, sebaiknya hindari membentak anak, ini 10 dampak membentak anak. Di sisi lain sebenarnya peserta didik kita tidak pantas dan bahkan tidak layak menjadi sasaran ketidakstabilan emosi pendidiknya, mungkin hal ini sering kali disadari oleh para pengajar/ pendidik, tapi keterbatasan dalam mengontrol emosi masih menjadi alasan utama bagi seorang pengajar/ pendidik.

Oleh karena itu, pengajar yang hebat itu adalah pendidik yang memahami psikologi anak didik atau siswanya. Anak atau peserta didik, selain bertumbuh secara fisik ia juga berkembang secara psikologis, ia kreatif dan ia juga akan menirukan sesuatu hal yang ia lihat dan ia dengar. Selain memahami psikologi anak didik, seorang pendidik yang baik juga harus menggali potensi diri yang ada didalam diri anak didiknya, melatih dan mengembangkan potensinya, dan juga mengajari thobiat yang baik seperti sikap rendah hati, ramah, sopan santun, kedisiplinan dll.
Silahkan simak artikel dibawah ini!!

 318 × 159_ayahkita.blogspot.com


Pendidik Tegas Tidak Harus Membentak
Mini Research: Potret Sekolah Kita

“Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Begitulah bunyi pasal 31 ayat (1) yang tertuang dalam UUD 1945. Hak untuk mendapat pendidikan adalah sama baik bagi anak normal maupun bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Sedapat mungkin anak mendapatkan pendidikan yang layak bagi diri mereka. Berdasarkan pengalaman yang terjadi di lapangan, beberapa anak mendapatkan pengalaman yang kurang menyenangkan selama bersekolah, misalnya kasus bullying yang marak terjadi atau bisa juga mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya dari pendidik. Pengalaman tersebut akan menimbulkan phobia terhadap sekolah (school phobia) bagi anak.

Pada suatu waktu saya dan teman saya berkunjung ke salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di kediri jawa timur. Pada hari sabtu, kegiatan belajar mengajar dilakukan di luar kelas dengan materi ketrampilan dan praktik ibadah. Setelah beberapa siswa selesai membaca iqra’ mereka diarahkan masuk ke musolla untuk bersiap mendengarkan ceramah.

Sontak kaget dengan wajah tercengang terlihat jelas di raut muka teman saya. Bagaimana tidak? Seorang guru yang berada di dalam musolla membentak dengan nada yang sangat keras sembari berkata “Kalian tidak akan saya pulangkan kalau tidak bisa anteng”. Salah satu kejadian yang kerap terjadi di lapangan. Memang jelas terlihat efek yang ditimbulkan dari bentakan tersebut efektif membuat para siswa diam, namun, apakah metode tersebut benar-benar cocok diterapkan dalam sekolah dengan landasan pendidikan inklusi? Tentu orang awam yang tidak memiliki basic dalam manajemen mendidik khususnya pendidikan luar biasa, sangat menyayangkan adanya kejadian tersebut. Memang jadi seorang pengajar atau pendidik itu sangat berat dan memiliki tanggung jawab yang besar, tapi bagaimanapun juga seorang pendidik harus berusaha tetap bersabar dalam menghadapi sikap anak didiknya, ini dia 9 solusi agar tidak membentak anak yang bisa anda terapkan sebagai seorang pendidik.

327 ×225_rdseciora.blogspot.com

Dr. Eric Taylor (1988:63-64) mengungkapkan bahwa siklus konflik ketika anak-anak selalu membuat ulah akan berbenturan dengan otoritas orang dewasa, akibatnya disiplin menjadi semakin sulit diterapkan. Orang dewasa akan bereaksi marah terhadap ulah yang ditimbulkan si anak, sedangkan si anak sendiri mungkin bisa takut namun pada tahapan selanjutnya ia akan membalas dengan perlakuan yang sama. Memang pada zaman dahulu metode tersebut efektif digunakan, namun seiring berkembangnya zaman metode seperti pendekatan personal melalui kontak-kontak yang ramah, sikap tegas namun lembut, sikap tenang dan tulus dari hati pun bisa digunakan sebagai metode oleh seorang pendidik. Apalagi jika di ingat objek yang sedang dihadapi adalah anak berkebutuhan khusus.

Menurut seorang psikolog, yang biasa di panggil Eyang Putri dan memiliki yayasan sekolah yang sama di Sengkaling Malang dalam sebuah diskusi inspiratif menyebutkan bahwa anak berkebutuhan khusus cukup diberikan perhatian misalkan dengan menyentuh tangan dan menatap matanya maka dia akan merasakan ketulusan dan akan bersikap baik terhadapmu. Seorang pendidik seharusnya bisa mengendalikan emosinya, bersikap tegas tetapi lembut dan bersikap konsisten itu perlu dan bisa dijadikan resep untuk mendisiplinkan siswa. Ajakan dan pengarahan yang intensif, serta pendekatan personal dengan mencari tahu akar permasalahan siapa yang menyebabkan masalah tanpa menyebabkan masalah yang baru.



Demikian artikel Pendidik Tegas Tidak Harus Membentak yang dapat saya posting semoga menambah wawasan anda sebagai bahan bacaan, jangan lupa like, share and coment di kotak komentar yang tertera di bawah. Terima kasih banyak sudah menyempatkan mampir di blog saya.


warning: Bagi anda seorang blogger yang ingin meng-copy paste artikel saya harap sertakan link sumber, dengan begitu anda mematuhi aturan dan menghargai penulis. Namun alangkah baiknya jika anda menulis artikel dengan pemikiran anda sendiri, itu malah terlihat hebat.
 

4 Ciri Dasar Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa”


4 Ciri Dasar Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa”
purwoudiutomo.com623 × 600


  

Assalamualaikum sobat aloneartikel, lama tak jumpa. Akhirnya admin sekarang bisa memposting artikel kembali, karna sudah sekian lama kira-kira sebulan lebih bahkan hampir 2 bulan tidak bisa nulis artikel dikarenakan laptop nya rusak dan harus ngantri servisan yang begitu banyak,,,kok jadi curhat ya,,,,,hehe!!

Bulan lalu saya telah membagikan artikel ketika hati yang merajai kepada anda, tapi untuk postingan ini topik kita adalah seputar pendidikan, dan hal-hal yang bersangkutan dengan pendidikan dan apa saja yang harus dilakukan dalam pendidikan?!

Oke sobat, pada kesempatan yang berbahagia ini admin akan memposting tentang pendidikan karakter dan membentuk generasi muda untuk bisa mempunyai nilai-nilai karakter yang sesuai normatif, sekaligus mempersiapkan generasi muda yang memiliki karakter berkualitas untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang.

Setiap jam setiap menit bahkan setiap detik, baik media cetak maupun non cetak tak henti-hentinya memberikan tindak kejahatan ke seluruh penjuru dunia. Berita yang disebarkan pun tak tanggung-tanggung mulai tindak kejahatan ringan sampai level berat. Lihat saja beberapa kasus yang marak terjadi disekitar kita seperti tawuran yang melibatkan para siswa SMP dan SMA, sampai kasus korupsi yang banyak menyandung para pejabat tinggi negara dan para politikus terhormat di negara pancasila ini. Mereka saling menuding satu sama lain, saling mencari pembenaran dan saling mencari “teman” untuk dilibatkan.

Padahal sekolah merupakan tempat untuk menimba ilmu dan mendidik para murid, tak pernah sekalipun para siswa diajari untuk tawuran ataupun korupsi. Lantas dari manakah muncul ide-ide untuk melakukan hal yang tak bermoral tersebut? Siapa yang pantas disalahkan jika seorang siswa bukannya belajar dengan rajin tapi justru membolos disaat jam pelajaran? Salah siapa jika para pejabat yang kita percaya bisa mengelola negara ini justru menggelapkan uang rakyat dengan menggunakan kekuasaannya dengan semena-mena?

Salah satu faktor pemicu terhadap hal-hal diatas yaitu karena kurangnya pendidikan karakter. Hal ini menyebabkan mereka melakukan kegiatan ”sesuka” hati tanpa mempedulikan baik buruk dan nilai moral yang ada. Di sekolah mereka cenderung hanya menerima pendidikan kognitif, asal nilai matematika, bahasa inggris, dan fisika mereka bagus maka mereka dianggap telah berhasil menempuh pendidikan. Padahal bukan hanya kecakapan kognitif yang dibutuhkan seorang anak tapi juga pendidikan karakter sebagai pendukung untuk menciptakan generasi muda yang berkualitas baik dalam ilmu pengetahuan maupun dalam hal akhlak.

Ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Berpijak dari pepatah tersebut sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah sia-sia. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun tanpa aturan dan asal tabrak. Andaikan berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh segingga mudah disetir, dimanfaatkan, dan dikendalikan oleh orang lain. Oleh karenanya, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik. Lalu sebenarnya apa sih pendidikan karakter?

Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter pada peserta didik. Terdapat empat ciri dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh FW FOERSTER, seorang pencetus pendidikan karakter dari jerman. 

Pertama, pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut.

Kedua, adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut terhadap resiko setiap kali menghadapi situasi baru.

Ketiga, adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar.

Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik dan kesetiaan merupakan dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih. “Anda tidak bisa mengajarkan apa yang anda mau, anda tidak bisa mengajarkan apa yang anda tahu. Anda hanya bisa mengajarkan siapa anda”- Soekarno

Maksud kutipan diatas perlu kita telaah lebih dalam, bukan hanya pengetahuan yang perlu diajarkan, bukan hanya sekedar guru yang berkompeten dalam ilmu pengetahuan yang dibutuhkan tapi lebih kepada pendidikan yang bisa membentuk karakter manusia. Membentuk diri pribadi seseorang sehingga bisa menjadi manusia yang bermoral dan bisa membangun keberadaban bangsa.

Pendidikan lazimnya dilakukan disekolah maupun lembaga informal yang telah terakreditasi. Kunci utama dalam sebuah sistem pendidikan yaitu guru. Peran guru sangatlah penting sebagai sumber ilmu pengetahuan, konselor, guide, hingga fasilitator. Baik buruknya lulusan dari sebuah sekolah maupun lembaga pendidikan yang setara terletak pada guru yang mengajarkan ilmu pada mereka. Jadi untuk bisa mewujudkan pendidikan karakter, seorang guru juga harus memiliki karakter dan kepribadian yang kuat Seperti kita ketahui seorang guru sudah seharusnya memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, profesional.

Jadi untuk mendapatkan kepribadian dan karakter yang kuat bisa melihat dari berbagai kompetensi tersebut. Sedangkan sekolah yang merupakan wadah atau tempat seseorang mencari ilmu juga harus memiliki sistem pengajaran yang efektif, mencakup semua aspek yang diperlukan para anak didik, yaitu pendidikan kognitif dan juga pendidikan karakter. Saat ini pendidikan karakter telah banyak menjadi sorotan dari berbagai kalangan. Sistem pendidikan yang ada diubah sedemikian rupa agar memenuhi pendidikan karakter yang dibutuhkan. Perubahan kurikulum yang dilakukan dari tahun ke tahun diharapkan mampu meningkatkan kualitas sistem pendidikan dan mampu mencetak para generasi bangsa yang nantinya mampu bersaing dengan kemampuan “komplit” dan mampu membangun bangsa menuju lebih baik.

Dalam hal ini tidak hanya guru yang mampu membangun karakter seoang anak, orang tua yang merupakan orang pertama yang anak kenal tentunya memegang peranan penting. Tanpa perhatian orang tua dan lingkungan keluarga yang mendukung, sama saja selama ini kita menabuh genderang terbuka, tak berbunyi dengan nyaring dan tanpa melodi yang indah. Maka dalam hal ini semua komponen harus bisa bersatu, saling mendukung dan saling memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan seorang anak, agar anak nantinya tumbuh menjadi manusia yang mumpuni dalam hal ilmu pengetahuan dan juga akhlak.


Pilar – Pilar Pendidikan Karakter





Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis bahwa setiap orang dapat menyetujui – nilai-nilai yang tidak mengandung politis, religius, atau bias budaya. Beberapa hal di bawah ini yang dapat kita jelaskan untuk membantu siswa memahami Enam Pilar Pendidikan Berkarakter, yaitu sebagai berikut:


1.      Trustworthiness (Kepercayaan)
Jujur, jangan menipu, menjiplak atau mencuri, jadilah handal – melakukan apa yang anda katakan anda akan melakukannya, minta keberanian untuk melakukan hal yang benar, bangun reputasi yang baik, patuh – berdiri dengan keluarga, teman dan negara.

2. Recpect (Respek)
Bersikap toleran terhadap perbedaan, gunakan sopan santun, bukan bahasa yang buruk, pertimbangkan perasaan orang lain, jangan mengancam, memukul atau menyakiti orang lain, damailah dengan kemarahan, hinaan dan perselisihan.

3. Responsibility  (Tanggungjawab)
Selalu lakukan yang terbaik, gunakan kontrol diri, disiplin, berpikirlah sebelum bertindak – mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab atas pilihan anda.

4. Fairness  (Keadilan)
Bermain sesuai aturan, ambil seperlunya dan berbagi, berpikiran terbuka; mendengarkan orang lain, jangan mengambil keuntungan dari orang lain, jangan menyalahkan orang lain sembarangan.

5. Caring  (Peduli)
Bersikaplah penuh kasih sayang dan menunjukkan anda peduli, ungkapkan rasa syukur, maafkan orang lain, membantu orang yang membutuhkan.

6. Citizenship  (Kewarganegaraan)
Menjadikan sekolah dan masyarakat menjadi lebih baik, bekerja sama, melibatkan diri dalam urusan masyarakat,  menjadi tetangga yang baik, mentaati hukum dan aturan, menghormati otoritas, melindungi lingkungan hidup.
 


  • Tujuan, Fungsi dan Media Pendidikan karakter

Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Pendidikan karakter berfungsi untuk:
  1. mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik
  2. memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur
  3. meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
    Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa. 
  4. Untuk lebih jelasnya tonton video di bawah ini: 
 

Itulah 4 Ciri Dasar Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa” yang dapat admin tulis hari ini semoga bermanfaat, nantikan artikel selanjutnya dan jangan lupa like, share and coment agar kita semua mendapat pahala yang mengalir.



warning: Bagi anda seorang blogger yang ingin meng-copy paste artikel saya harap sertakan link sumber, dengan begitu anda mematuhi aturan dan menghargai penulis. Namun alangkah baiknya jika anda menulis artikel dengan pemikiran anda sendiri, itu malah terlihat hebat.